Rabu, 14 November 2018

Kearifan Lokal Masyarakat Gambut Pesisir Kepulauan

Tags





Pekanbaru, 14 November 2018. Sejarah dari mulut kemulut menyebutkan bahwa berawal dari tahun 1916 masyarakat sudah memanfaatkan gambut untuk dijadikan permukiman dan bercocok tanam terutama gambut dangkal yang berada disepanjang pesisir pantai dan aliran sungai.
Sehingga dikenallah isitilah “perun”, perun merupakan suatu cara yang digunakan masyarakat untuk membakar sampah yang berupa dedaunan, ranting pohon, gulma dan sampah lainnya dari sisa pembersihan lahan dengan cara membakar. Perun dilakukan dengan cara membuat tumpukan-tumpukan sampah tersebut menjadi beberapa bagian dengan ukuran rata-rata 3-4 meter baru kemudian dibakar. Namun sebelum memerun, lahan disekeliling tempat yang digunakan untuk merun terlebih dahulu dibersihkan sehingga ketika perun sudah dibakar maka tidak akan merambat atau menyebabkan Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) yang ada di sekitarnya. Memerun pada umunya digunakan oleh masyarakat untuk penyiapan media tanam pada pertanian ladang palawija, sayur mayur, padi dan jagung.
Sedangkan untuk sekala yang lebih besar seperti perkebunan dengan jenis tanaman sagu masyarakat mengunakan cara ngelorong, membalau dan ngelaras:
 Ngelorong adalah cara yang digunakan untuk menyiapkan lahan yang akan dijadikan perkebunan, dan lahan yang mengunakan cara ini biasanya masih berupa hutan. Sehingga ngelorong digunakan untuk membuat jalu-jalur atau baris tanam tidak dengan menebang dan mebersihkan tanaman hutan secara keseluruhan namun hanya membersihkan bagian-bagian yang sudah ditentukan dan membuat lubang tanah yang menjadi media untuk ditanam bibit baik itu rumbia/sagu, karet maupun tanaman lainnya.
Membalau merupakan cara yang digunakan masyarakat untuk mematikan pohon besar yang ada disekeliling tanaman yang dibudidayakan seperti rumbia, karakteristik tanaman rumbia tidak bisa tumbuh dengan baik ketika lahan yang ditanami tidak memiliki tanaman pelindung, namun rumbia juga tidak bisa tumbuh sempurna apabila tertutup dengan pohon dan semak-semak karena rumbia butuh sinar matahari yang cukup untuk tumbuh dengan baik, nah untuk mengatasi hal tersebut masyarakat mengunakan cara membalau yaitu dengan mengupas sekeliling kulit pohon liar yang berada disekitar tanaman rumbia dengan tujuan agar pohon tersebut mati namun tidak dengan menebangnya, sehingga ketika pohon tersebut dalam proses mati pohon lain yang tumbuh disekitarnya akan hidup dan menggantikan pohon yang mati dibalau, sedangkan rumbia yang ditanam juga kan terus tumbuh dengan baik seiring proses tersebut.
Ngelaras, ngelaras adalah cara pembersihan tanaman yang berada didalam hutan atau kebun yang berada berhampiran dengan hutan, dimana cara yang di gunakan adalah dengan membersihkan dahan, daun dan gulma yang menggangu dengan menebas tanpa membakar sampah dari pembersihan tersebut. Ngelaras lebih umum digunakan untuk proses pembersihan kebun rumbia yang sudah berusia 2-3 tahun atau yang dikenal dengan sebutan “munggung gajah”.
Begitu banyak kearifan lokal lain yang dimiliki oleh masyarakat pesisir yang berada di wilayah gambut kepulauan yang berbatasan dengan batas negara seperti di Kepulauan Meranti, dan kearifan lokal tersebutlah yang menjadikan masyarakat mampu bertahan hidup dengan memanfaatkan dan mengelola gambut namun dengan tetap konsekuen menjaga dan melindungi gambut dengan keteguhan sehingga bertahun bahkan ratusan tahun tidak terjadi bencana, masyarakat dan gambut selaras dalam kehidupan.
Gambut pesisir di kepualauan menjadi keajaiban tersendiri yang sengaja di ciptakan untuk menjadi media penempa kehidupan, bukan hanya untuk kehidupan yang ada didalamnya namun untuk kehidupan yang lebih luas dan bahkan kebijakan pemerintah. (Didi Esman, Ditulis dalam Buku "Tanah Gambut Di Batas Negeri)


EmoticonEmoticon